Kaki Belalang

Suatu sore, ketika anak-anak sedang bermain di tanah lapang, dua orang anak sedang asyik di pojok tanah lapang mengejar-ngejar belalang hijau. Mereka mengendap-endap untuk bisa menangkap belalang hijau tersebut. Perlahan-lahan mereka mendekati si belalang hijau, tetapi begitu dekat, belalang hijau itu melenting, terbang tetapi tak jauh dari mereka.

Berulang-ulang mereka mengejar-ngejar seperti itu sampai akhirnya masing-masing dari mereka mendapat seekor belalang hijau. Kedua anak itu kemudian membawa pulang belalang tangkapan mereka ke teras rumah salah seorang dari mereka.

 

Di teras rumah, mereka mempermainkan belalang hijau hasil tangkapan di tanah lapang. Mereka membandingkan kedua belalang. Mereka mengamati kedua belalang. Saking telitinya, mereka sampai memperdebatkan tentang di mana sebetulnya letak telinga si belalang hijau tangkapan mereka. Mereka amati dengan lebih saksama bagian kepala si belalang hijau. Semakin mereka mengamati, semakin mereka kebingungan menentukan di mana letak telinga belalang hijau.

 

Saking pinginnya mereka mengetahui di mana letak telinga belalang hijau dan tidak dapat ditemukan juga, akhirnya kedua anak itu bersepakat untuk meletakkan kedua belalang hijau di lantai teras rumah. Ketika kedua belalang hijau itu diletakkan, kedua belalang hijau itu diam-tenang. Akan tetapi, begitu kedua anak itu menepukkan tangan mereka, kedua belalang hijau itu dengan serta merta melenting terbang. Mereka tangkap lagi kedua belalang hijau itu. Mereka ulang kegiatan tadi sambil dengan memperhatikan dengan lebih saksama.

 

Ternyata, pada saat kedua anak itu menepukkan tangan, kaki belakang belalang hijau itulah yang paling pertama merespon. Sampailah akhirnya kedua anak itu mengambil simpulan bahwa sebetulnya telinga si belalng hijau berada di kaki belakangnya. Untuk lebih menguatkan pendapat mereka, kedua anak itu dengan sadis melepas kedua kaki belakang belalang hijau. Mereka lepas kembali kedua belalang hijau yang sudah tidak berkaki belakang. Mereka kembali menepukkan tangan mereka, dan ternyata benar ketika mereka menepukkan tangan si belalang tidak bereaksi sama sekali.

Peristiwa semacam itu mungkin masih bisa dimaklumi ketika kasusnya melibatkan dua orang anak kecil yang daya nalarnya masih rendah. Kita akan menjadi terlongong-longong ketika orang dewasa melakukan kekeliruan penarikan simpulan sebagaimana yang dilakaukan kedua orang anak tadi.

 

Tidak jarang kita menarik simpulan dengan tidak simpati karena kekeliruan analisis masalah. Tidak selamanya peristiwa kebakaran terjadi lagsung karena api. Bisa juga perisriwa kebakaran terjadi karena hal lain selain api. Bisa jadi juga anak kita tidak bodoh, hanya saja “belum belajar” dan orang tua tidak membelajarkan mereka.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: