Contoh PTK Mata Pelajaran Matematika

Cooperative Learning Tipe CIRC Berbasis Penemuan untuk Meningkatkan Keterampilan dalam Menyelesaian Soal Cerita Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Tulis, Kabupaten Batang

Oleh: Rochani

Abstrak :

Latar belakang penulis untuk melaksanakan penelitian yang berjudul; ”Cooperative Learning tipe CIRC Berbasis Penemuan untuk meningkatkan  keterampilan dalam menyelesaikan soal cerita siswa kelas IX SMP Negeri 1Tulis Kabupaten Batang”  adalah adanya beberapa masalah mendasar yang dihadapi guru matematika ketika membelajarkan siswa kelas IX E SMP Negeri 1 Tulis. Masalah yang dimaksud antara lain: (i) Siswa kurang terampil berpikir untuk belajar, takut bertanya dan berpendapat, dan kesulitan dalam menyelesaikan masalah/soal cerita ; (ii) Hasil belajar matematika cukup rendah; dan (iii) Adanya faktor pendukung seperti: kualifikasi guru sarjana, alat peraga cukup, lingkungan sekolah mendukung, PBM tepat waktu dan buku pelajaran cukup, akan tetapi masalah tersebut di atas belum terselesaikan. Permasalahannya adalah apakah dengan menerapkan Cooperative Learning tipe CIRC berbasis penemuan dapat meningkatkan hasil belajar matematika ? Maka tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui keampuhan tindakan yaitu meningkattidaknya hasil belajar matematika materi kesebangunan pada siswa kelas IX E SMP Negeri 1 Tulis semester ganjil tahun pelajaran  2010/2011 melalui penerapan Cooperative Learning.

Jenis penelitian tindakan kelas ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Adapun untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti melaksanakan tahapan planning (menetapkan jumlah siklus dan materi pokok yang akan dipelajari, menentukan sampel penelitian, menyusun lesson plan dan instrumen penilaian, menyusun format observasi lainnya),  tahapan action (melaksanakan tindakan kelas sebanyak 3 siklus mengacu pada perencanaan), tahapan observing (melakukan observasi terhadap perkembangan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomorik serta kinerja kelompok), dan reflection (melaksanakan analisa data dan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran, evaluasi proses dan hasil belajar yang menjadi fokus dalam penelitian tindakan kelas ini).

Validitas data bergantung  pada validitas instrumen. Validitas instrumen dalam penelitian ini menggunakan  practical validity dan validitas data dengan menggunakan face validity. Sedang teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisa deskriptif kualitatif.

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dan mampu menjawab permasalahan yang ada. Berdasar hasil evaluasi, pada akhir siklus III didapat angka pencapaian nilai rata-rata UH sebesar 69,00 (naik sebesar 26 atau 37,68 % dari pra-siklus dan termasuk dalam kriteria baik sekali), angka pencapaian prosentase perolehan skor keterampilan berpikir dalam pembelajaran 0,079 dan termasuk dalam kriteria baik.

Selanjutnya, dengan memperhatikan pelaksanaan penelitian dan hasilnya, maka peneliti menyarankan kepada guru matematika pada khususnya untuk melaksanakan Cooperative Learningagar kemampuan siswa dapat ditingkatkan melalui pengembangan pengetahuan prosedural dan deklaratif serta belajar secara kooperatif.

Adapun implikasi dari penelitian ini adalah bahwa hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pengembangan penelitian tindakan kelas berikutnya dan dapat dijadikan sebagai model pembelajaran alternatif untuk meningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik sebagai hasil belajar.

Kata kunci : Cooperative Learning


1. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting diajarkan pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dalam pedoman penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Pertama dijelaskan tujuan pengajaran matematika pada pendidikan dasar ( Depdiknas, 2006:8) antara lain agar siswa memahami konsep matematika secara luwes, akurat, efesiarn, dan tepat serta memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu atau kritis, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya sendiri dalam pemecahan masalah.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman  penulis dalam mengajar matematika selama ini, siswa kurang memahami materi yang diajarkan guru dan   mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika. Pengalaman juga menunjukkan bahwa hasil belajar siswa belum memuaskan. Hal ini dapat dilihat diantaranya dari nilai ulangan harian pada materi pokok sebelum dilaksanakan penelitian (pra-siklus). Dimana jumlah siswa yang mencapai tingkat ketuntasan belajar baru 37,5 % dari 40 siswa. Dan rata-rata nilai ulangan hariannya sebesar  43.

Gejala-gejala yang tampak pada saat proses belajar antara lain: kemampuan menganalisa dan menyelesaikan soal rendah, siswa kurang terampil berpikir dan cenderung suka mencontoh, siswa belum mampu berfikir kritis dan sistematis. Akibatnya jika diberikan soal-soal yang agak berbeda sedikit dengan contoh yang diberikan, mereka tidak mampu menyelesaikannya. Hal ini disebabkan siswa belajar hanya dengan mengingat fakta, dan kurang memahami konsep yang dipelajari.

Selanjutnya melalui sebuah diskusi dengan teman sejawat, penulis mencoba mengidentifikasikan masalah sebagai berikut: bahwa mungkin rendahnya hasil belajar matematika disebabkan karena (1) pendekatan pembelajaran yang diberikan kurang sesuai, (2) metode mengajarnya kurang bervariasi, (3) keterampilan berpikir siswa kurang maksimal (4) teknik penilaian tidak sesuai sehingga perkembangan kemampuan siswa kurang terukur, (5) pemanfaatan lingkungan/alat peraga kurang , dan dukungan belajar dari orang tua dan masyarakat rendah.

Dengan mencermati  juga bahwa di SMP Negeri 1 Tulis memiliki kualitas guru yang cukup tinggi ( 99% sarjana), memiliki alat peraga matematika dan buku-buku yang cukup serta lingkungan sekolah yang mendukung (berada diluar kota Batang  yang nyaman dan sejuk), maka dapat dipahami bahwa rendahnya  hasil belajar matematika yang diperoleh siswa disebabkan karena belum diterapkannya model pembelajaran yang dapat membelajarkan siswa secara mandiri, dan dapat membangun kemampuan dan pengetahuan secara bertahap dengan memanfaatkan lingkungan belajar sebagai media pengajaran untuk menyelesaikan soal cerita atau masalah matematika yang berkaitan dengan dunia nyata atau kehidupannya.

Mengingat masalah di atas jika tidak diselesaikan akan berakibat munculnya masalah-masalah yang baru seperti siswa akan semakin kesulitan menerima materi pada kelas berikutnya, peluang tidak lulus setelah ujian dan siswa semakin kurang memaknai dan menyenangi pelajaran matematika, maka sejalan dengan langkah-langkah pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan baik berupa Dana Bantuan Langsung (DBL) yang disalurkan melalui MGMP Program MERMUTU (Better Education thraogh Reformed Management and Universal Teacher Upgrading) maupun usaha peningkatan kualitas guru melalui pelatihan dan pendidikan bagi guru, penulis berusaha mencari ide atau gagasan tentang bagaimana cara yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar matematika yang diperoleh siswa.

Selanjutnya penulis mencoba akan meneliti apakah tindakan kelas dengan menerapkan model Cooperative Learningtipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composation) dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa.

 

1.2. Masalah nyata dalam pembelajaran

Ada masalah yang nyata, jelas dan mendesak yang di dukung oleh data nyata untuk segera diatasi. Masalah tersebut bermula dari adanya 37,5 % siswa SMP 1 Tulis yang baru  tuntas dalam ulangan harian dengan materi kesebangunan. Sebagai sekolah negeri di tengah kota, maka banyaknya siswa yang belum tuntas bisa ditekan seminimal mungkin. SMP negeri 1 Tulis di kota Batang, jelas menjadi barometer keberhasilan bagi  SMP di daerah.

1.3. Penyebab masalah

Penyebab masalahnya jelas, yaitu raw input-nya (siswa yang masuk) kurang berkualitas. Dengan demikian, guru mata pelajaran matematika harus berusaha keras agar hasil belajar siswa SMP 1 Tulis dapat meningkat, walaupun kualitas siswanya kurang begitu bagus. Di lain pihak, soal-soal UN banyak yang memuat soal-soal cerita. Padahal sebelum mengerjakan soal cerita, siswa harus bisa memahami makna soal terlebih dahulu. Untuk itu siswa SMP 1 Tulis perlu dilatih secara dini dalam memahami makna soal cerita untuk kemudian dapat menyelesaikannya.

1.4.Kolaboratif antar guru mata pelajaran matematika di SMP 1 Tulis

Sebagai guru matematika yang mengajar di SMP 1 Tulis, maka peneliti merasa tertantang untuk memecahkan persoalan lemahnya siswa dalam menyelesaikan soal cerita. Dalam suatu kesempatan, maka secara kolaboratif, para guru matematika SMP 1 Tulis telah mengidentifikasi masalah yang di hadapi guru dan penyebabnya mengenai lemahnya siswa SMP 1 Tulis dalam menyelesaikan soal cerita. Identefikasi penyebab masalahnya adalah sebagai berikut:

1.    Guru belum menemukan model pembelajaran yang tepat untuk melatih siswa dalam menyelesaikan soal cerita.

2.    Siswa SMP 1 Tulis dalam menyelesaikan soal cerita metematika mengalami hambatan dalam:

a.  Memahami makna setiap kalimat yang ada dalam soal cerita;

b.  Kurang mampu dalam merumuskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan, kurang bisa menghubungkan secara fungsional unsur-unsur yang diketahui untuk menyelesaikan masalahnya; dan

c.  Masih ada yang tidak tahu, unsur mana yang harus dimisalkan dengan suatu variabel.

Oleh karena itu, guru-guru secara kolaboratif mencoba mencari cara dan menemukan model pembelajaran yang tepat agar penyebab masalah yang teridentifikasi di atas dapat segera diatasi.

Hampir semua kompetensi dasar materi matematika di sekolah SMP ada soal cerita. Soal cerita adalah soal yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari (contextual problems). Soal cerita dapat dikemas dalam bentuk tes objektif maupun dalam benruk soal uraian yang pengerjaannya perlu menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, dan penyelesaiannya. Kenyataannya, ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami arti kalimat-kalimat dalam soal cerita. Oleh karena itu, maka para guru perlu mencari suatu model pembelajaran yang spesifik sehingga keterampilan siswa dalam mengerjakan soal cerita dapat ditingkatkan.

Berdasarkan ide kolaboratif antar guru-guru matematika SMP Negeri 1 Tulis. Maka model  Cooperative Learning tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) berbasis penemuan perlu diimplementasikan di SMP Negeri 1 Tulis guna meningkatkan ketrampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita. Cooperative Learning di dalamnya ada Learning Society yang cocok untuk meningkatkan aktivitas kegiatan belajar. Dalam Learning Society ini, guru dapat menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif untuk saling bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan dalam kelompoknya.

Persoalannya, bagaimankah penerapan model Cooperative Learning CIRC berbasis penemuan dalam mata pelajaran matematika di sekolah untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas IX SMP Negeri 1 Tulis dalam menyelesaikan soal-soal cerita?. Untuk kegiatan PTK ini dipilih kelas IX E. Pemilihan pada kelas IX E, disebabkan karena peneliti adalah guru yang mengajar di kelas IX E.

Rumusan Masalah

Atas dasar identifikasi penyebab masalah yang telah diuraikan pada latar belakang di atas, maka masalah yang dihadapi guru kelas IX SMP 1 Tulis adalah sebagai berikut:

Apakah Cooperative Learning Tipe CIRC dapat meningkatkan keterampilan  siswa  kelas IX SMP 1 Tulis dalam menyelesaikan soal-soal cerita?

Bentuk tindakan pemecahan masalah

Untuk menjawab masalah tersebut di atas, maka secara kolaboratif, bentuk tindakan untuk memecahkan masalahnya adalah dengan diterapkannya model pembelajaran Cooperative Learning tipe CIRC (Cooperative Integrated reading and Composition) berbasis penemuan. Implementasi/penerapan model pembelajaran tersebut akan diteliti secra kolaboratif melalui Penilitian Tindakan Kelas. Kolaboratif di lakukan oleh peneliti dengan dibantu guru pelajaran matematika yang lain.

Tujuan penelitian

Sesuai dengan masalah penelitian yang akan dipecahkan melalui PTK, maka penelitian tindakan berbasis kelas yang akan dilaksanakan ini memiliki tujuan Untuk meningkatkan keterampilan siswa kelas IX SMP 1 Tulis dalam memahami dan menyelesaikan soal cerita melalui model Cooperative Learning Tipe CIRC. (Cooperative Integrated reading and Composition)

Manfaat Hasil Penelitian

Manfaat hasil penelitian yang di harapkan adalah sebagai berikut:

 

Bagi siswa:

  1. Ketrampilan siswa kelas IX SMP 1 Tulis dalam memahami makna kalimat soal cerita dan menyelesaikan soal cerita dapat meningkat.
  2. Hasil belajar siswa kelas IX SMP 1 Tulis dalam mata pelajaran matematika meningkat.
  3. Penerapan model Cooperative Learning tipe CIRC(Cooperative Integrated reading and Composition) berbasis penemuan dapat dikembangkan atau diterapkan pada siswa di kelas-kelas lain.

Bagi guru:

  1. Merupakan upaya guru dalam menunjang program pemerintah pusat dalam meningkatkan kemampuan belajar dan hasil belajar siswa, khususnya dalam mata pelajaran matematika.
  2. Adanya inovasi model pembelajaran matematika dari dan oleh guru yang menitikberatkan pada penerapan model Cooperative Learning tipe CIRC (Cooperative Integrated reading and Composition).

Bagi sekolah (SMP 1 Tulis):

  1. Diperoleh panduan inovatif model pembelajaran matematika Cooperative Learning tipe CIRC (Cooperative Integrated reading and Composition) berbasis Penemuan, yang selanjutnya di harapkan dapat dipakai untuk kelas-kelas yang lainnya, baik di SMP 1 Tulis maupun SMP-SMP yang lainnya.
  2. Diharapkan akan mengurangi adanya siswa SMP 1 Tulis yang belum tuntas dalam materi kesebangunan yang disebabkan oleh rendahnya nilai matematika.

Tinjauan Perpustakaan

1. Relevansi Konsep dengan Permasalahan

Kurikulum2006yangdikenal Kurikulum TingkatSatuanPendidikan(KTSP)memasukkanketerampilan-keterampilanberpikiryang harusdikuasai anak disampingmateri isiyangmerupakan pemahaman konsep. Jadi, siswa perlu memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan soal cerita. Menurut Boediono (2002:1) kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang di refleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus-menerus dapat memungkinkan seseorang menjadi kompeten, dalm arti memiliki pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu. Seharusnya, pengetahuan dan keterampilan siswa SMP 1 Tulis, khususnya dalam menyelesaikan soal cerita dapat dipercepat dan lebih ditingkatka pula.

Dalam menyelesaikan soal cerita, siswa dituntut untuk berfikir tingkat tinggi (higher-level thinking), sesuai dengan usia mereka. Jadi para siswa perlu dilatih untuk memiliki pemikiran yang tinggi (higher-level thinking) dalam matematika. Dan CIRC berbasis penemuan merupakan model pembelajaran yang tepat untuk melatih siswa berfikir tinggi. Menurut Chuck W. Wiederhold (2002:6), higher-level thinking student is concerned with problem finding or inquiry as well as problem solving. Higher-level thinking involves the aplication multiple criteria, and evaluating the possible benefits of a variety of solution passing through inquiry in contextual problems. Dengan demikian, permasalahan dalam penelitian ini layak untuk dipecahkan melalui Penelitian Tindaka Kelas dengan menerapkan model pembelajaran CIRC berbasis penemuan/ inquiry.

Relevansi Teori dan Hasil Penelitian yang Terkait dengan Tindakan Kelas

 

a. Temuan Penelitian Pendukung

Penelitian Amin Suyitno (2001) yang mengeksperimenkan pengajaran matematika berbasis Problem Posing yang juga berasosiasi dengan CTL di SMP 9 Semarang, ternyata menunjukkan hasil belajar siswa yang meningkat. Amin Suyitno (2002) juga mengadakan penelitian lagi di SMP 25 semarang tentang pembelajaran matematika dengan pendekatan Realistic Matematics education (RME) dengan setting inquiry juga menunjukkan keberhasilan siswa dalam meningkatkan hasil belajar matematikanya. Selain itu, Emi Pujiastuti (2002) yang meneliti pelaksanaan Pengajaran Berbalik (Reciprocal Teaching) di SLTP 2 Semarang, yang menekankan kepada penemuan dan kemandirian siswa belajar secara mandiri, juga menunjukkan hasil belajar yang lebih baik dan signifikan dibandingka dengan pengajaran konvensional / ekspositori.

 

b. Relevansi Teori / konsep dengan tindakan kelas

CIRC singkatan dari Cooperative Integrated Reading and Composition, termasuk salah satu tipe model pembelajaran Cooperative Learning. Pada awalnya, model CIRC diterapkan dalam pembelajaran bahasa. Dalam kelompok kecil, para siswa diberi suatu text / bacaan ( cerita/novel), kemudian siswa latihan membaca atau saling membaca, memahami ide pokok, saling merevisa, dan menulis ikhtisar cerita atau memberikan tanggapan terhadap isi cerita, atau untuk mempersiapkan tugas tertentu dari guru (Mohamad Nur, 1999:21).

Dalam model pembelajaran CIRC, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa. Jadi, dalam kelompok ini sebaiknya ada siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa sebaiknya merasa cocok satu sama lain. Dengan pembelajaran kelompok, diharapkan para siswa dapat meningkatkan pikiran kritisnya, kreatif, dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi. Sebelum di bentuk kelompok, siswa diajarkan bagaimana bekerja sama dengan suatu kelompok. Siswa diajari menjadi pendengar yang baik, dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompok, berdiskusi, mendorong teman lain untuk bekerja sama, menghargai pendapat orang lain dan sebagainya. Salah satu ciri pembelajaran kooperatif adalah kemampuan siswa untuk bekerja sala dalam kelompok kecil yang heterogen. Masing-masing anggota dalam kelompok memiliki tugas yang setara. Lyn D. English (1995:5) menuliskan bahwa “Student must devide up the tasks and share the responsibilities equally among group members”. Karena pada pembelajaran kooperatif keberhasilan kelompok sangat diperhatikan, maka siswa yang pandai ikut bertanggungjawab membantu temannya yang lemah dalam kelompoknya. Dengan demikian, siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilannya, sedangkan siswa yang lemah akan terbantu dalam memahami permasalahan yang diselesaikan dalam kelompok tersebut.

Slavin (1995:98) menyatakan bahwa “in addidition to solving the problem of management and motivation in individualized programmed intruction, CIRC was created to take advantage of the considerable socialization potential of cooperative learning” Di lain pihak, Johnson and Johnson (1994:40)

Knowledge is social, constucted from cooperative efforts to learn, understand and solve problems. Group members exchange information and insight one another, and weak points in each other’s reasoning strategies, correct one another, and adjust their understanding on the basis of other’s understanding.

Model pembelajaran tipe CIRC memiliki delapan komponen. Kedelapan komponen tersebut adalah sebagai berikut. (1) Teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 sampai 5 siswa, (2) Placement test,misalnya diperoleh dari nilai rata-rata ulangan harian sebelumnya atau berdasarkan nilai rapor agar guru mengetahui kelebihan atau kelemahan siswa pada bidang tertentu, (3) Student Creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya, (4) Learning Society atau Team Learning, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan kepada kelompok yang membutuhkannya, (5) Team Scores and Team Recognition, yaitu pemberian scor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas, (6) Teaching Group, yakni pemberian materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok, (7) Facts Test, yaitu pelaksanaan test/ulangan berdasarkan fakta yang diperoleh siswa, dan (8) Whole-Class Unit, yaitu pemberian rangkuman materi oleh guru di akhir waktu pembelajaran dengan strategi penemuan khususnya tentang pemecahan soal cerita.

Masalah atau soal sarana untuk kegiatan penemuan harus memenuhi syarat sebagai berikut. (1) Materi prasyarat untuk menyelesaikan maslah/soal tersebut harus sudah diketahui siswa, (2) Masalah/soal terjangkau oleh siswa, (3) Algoritma atau komposisi penyelesaian soal tersebut belum diinformasikan kepada siswa, (4) Para siswa berkehendak untuk menyelesaikan masalah/soal itu (Abdurrahman As’ari, 2005:45).

Kegiatan pokok dalam CIRC berbasis penemuan untuk memecahkan soal cerita meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik yang bersifat menemukan sendiri, yakni; (1) salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling membaca, (2) Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita, termasuk menemukan dan menulis apa yang diketahuiu, apa yang ditanyakan, dan memisalkan apa yang ditanyakan dengan suatu variable tertentu, (3) Saling membuat ikhtisar atau menemukan rencana penyelesaian soal certa, dan (4) Menuliskan penyelesaian soal ceritanya secara urut (menuliskan urutan komposisi penyelesaiannya), dan, (5) Saling merevisa dan mengedit pekerjaan/penyelesaian (jika ada yang perlu direvisi).

 

c. Penerapan Model Cooperative LearningTipe CIRC berbasis penemuan untuk menyelesaikan Soal Cerita.

Dengan mengadopsi model pembelajaran  tipe CIRC berbasis penemuan untuk melatih siswa meningkatkan ketrampilannya dalam menyelesaikan soal cerita, maka langkah yang ditempuh seorang guru mata pelajaran matematika adalah sabagai berikut.

  1. Guru siap melatih siswa untuk meningkatkan ketrampilan siswanya dalam menyelesaikan soal cerita melalui penerapan pembelajaran tipe CIRC berbasis penemuan.
  2. Guru membentuk kelompok-kelompok belajar siswa (Learning society) yang heterogen. Setiap kelompok terdiri atas 4 atau 5 siswa.
  3. Guru mempersiapkan 1 atau 2 soal cerita berbasis penemuan dan membagikannya kepada setiap siswa dalam kelompok yang sudah terbentuk.
  4. Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian kegiatan spesific CIRC berbasis penemuan sebagai berikut.

(a)                Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling membaca soal ceria tersebut, (b) Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita, termasuk menemukan dan menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, adan memisalkan apa yang ditanyakan dengan suatu variable tertentu, (c) Saling membuat ikhtisar atau rencana penyelesaian soal cerita, (d) Menemukan dan menuliskan penyelesaian soal ceritanya secara urut (menuliskan urutan komposisi penyelesaiannya), (e) Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/penyelesaian (jika ada yang perlu direvisi), dan (f) Menyerahkan hasil tugas kelompok kepada guru.

  1. Setiap kelompok bekerja berdasarkan serangkaian kegiatan pola CIRC (Learnig Society). Guru berkeliling mengawasi kerja kelompok.
  2. Ketua kelompok melaporkan keberhasilan kelompoknya atau melapor kepada guru tentang hambatan yang dialami kelompoknya. Jika diperlukan guru dapat memberikan bantuan kepada kelompok secara proporsional.
  3. Ketua kolompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota telah memahami dan dapat menemukan cara mengerjakan soal cerita yang diberikan guru.
  4. Guru meminta kepada perwakilan kelompok tertentu untuk menyajikan temuannya di depan kelas.

Dalam hal ini, keterlibatan siswa untuk belajar secara aktiv merupakan salah satu indikator keefektifan belajar. Denagn demikian siswa tidak hanya menerima saja materi pengajaran yang diterima guru, melainkan siswa juga berusaha menggali dan mengembangkan sendiri dalam kelompoknya. Hal ini diperkuat dengan pendapat Eggen dan Kauchack (1998:1) yang menulis bahwa “Effective learning occurs when students are actively involved in organizing and finding relationships in the information”.

Selain itu dalam sebuah jurnal yang dikeluarkan Balitbang dikbud, Budiono dan Ella Yulaewati (1999) menulis bahwa di era informasi ini, diperlukan pemahaman, komunikasi dan perhitungan. Pemahaman diterjemahkan sebagai kemampuan.

Melalui penerapan model pembelajaran, model Cooperative Learning tipe CIRC berbasis penemuan, maka hasil belajar siswa kelas IX SMP 1 Tulis dalam menyelesaikan soal cerita dapat ditingkatkan.

Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

Kerangka Berpikir :

Kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 



Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah: dengan menerapkan model pembelajaran tipe CIRC hasil belajar siswa, keterampilan berpikir siswa serta pembelajaran pada materi kesebanguna akan meningkat.

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, yang mempengaruhi proses belajar antara lain keterampilan berpikir siswa dalam pembelajaran. Maka sebab itu pembelajaran tipe CIRC dalam pelaksanaanya akan memotivasi siswa dalam belajar karena setiap siswa dalam kelompok mempunyai tanggung jawab untuk menguasai materi yang ditugaskan dan dapat mempresentasikan di depan kelas hasil kerja kelompoknya. Hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Fitriana Shinta dengan judul “ Penerapan Model Pembelajaran Cooperative tipe CIRC untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada pokok bahasan segiempat”. Menyimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran cooperative tipe CIRC dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita sehingga berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, peneliti melalui model pembelajaran tipe CIRC ini menduga akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

 

II. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Metode Penelitian

1.      Tempat Penelitian

Tempat Penelitian di kelas IX SMP 1 Tulis, Jln.Raya Simbangdesa,No 10, Telephon (0285) 449373, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang.

2.      Subjek Penelitian

Pihak yang terlibat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

a.       Subjek peneliatiannya adalah siswa kelas IX E SMP 1 Tulis, dilaksanakan di kelas IX E disamping peneliti mengajar dikelas ini, karena kelas tersebut mempunyai masalah sesuai yang diteliti.

b.      Penelitian yang melibatkan dua orang guru mata pelajaran matematika pada kelas IX SMP 1 Tulis. Satu guru sebagai ketua peneliti dan satu guru yang lain sebagai pengamat.

3.      Prosedur Kerja dalam Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dalam 3 siklus. Setiap siklusnya memiliki 4 tahapan. Yaitu (1) Perencanaan, (2) Tindakan, (3) Pengamatan, dan (4) Refleksi.

Siklus I:

Perencanaan

1)      Semua tim peneliti secara kolaboratif, membuat 2 buah soal cerita yang terkait dengan meteri yang diberikan kepada siswa.

2)      Menyiapkan pembentukan kelompok yang heterogen, dan memiliki salah satu siswa sebagai ketua kelompok.

3)      Membuat RPP

4)      Menetapkan salah satu guru untuk mengajar, dan 2 yang lain sebagai pengamat.

Tindakan

1)      Guru mengajarkan suatu materi dalam pembelajaran matematika.

2)      Guru membentuk kelompok-kelompok siswa yang heterogen yang terdiri atas 4-5 siswa. Siswa memilih salah satu teman sebagai ketua kelompok.

3)      Guru membagikan 2 soal cerita berbasis penemuan dan setiap kelompok siswa bekerja berdasarkan pola kerja cooperative learning tipe CIRC, yakni:

(a)   Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling membaca soal ceria tersebut, (b) Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita, termasuk menemukan dan menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, adan memisalkan apa yang ditanyakan dengan suatu variable tertentu, (c) Saling membuat ikhtisar atau rencana penyelesaian soal cerita, (d) Menemukan dan menuliskan penyelesaian soal ceritanya secara urut (menuliskan urutan komposisi penyelesaiannya), (e) Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/penyelesaian (jika ada yang perlu direvisi), dan (f) Ketua menyerahkan hasil tugas kelompok kepada guru.

4)      Guru meminta kepada perwakilan kelompok tertentu untuk menyajikan temuannya di depan kelas.

Pengamatan

Sesuai dengan indikator keberhasilannya, maka fokus pengamatannya adalah sebagai berikut.

1)      Mengamati terjadinya peningkatan keterampilan belajar siswa, yang ditandai dengan keberanian siswa bertanya, tak ada kelompok siswa yang pasif serta tidak ada siswa dalam satu kelompom yang pasif.

2)      Mengamati cara menerapkan model pembelajaran CIRC ( Cooperative Integrated reading and Composition) berbasis penemuan agar diperoleh cara penerapan yang efektif.

3)      Mengamati peningkatan hasil belajar siswa kelas IX SMP 1 Tulis pada pelajaran matematika khususnya dalam menyelesaikan soal cerita.

Refleksi

1)      Pada prinsipnya kegiatan refleksi adalah mengevaluasi semua aktivitas siklus yang sudah berjalan untuk memperbaiki kegiatan pada siklus berikutnya.

2)      Refleksi dilakukan secara kolaboratif oleh ketua dan para anggota peneliti.

Siklus II

Pada prinsipnya kegiatan pada siklus II sama dengan kegiatan pada siklus I. Kegiatan pada siklus II merupakan kegiatan perbaikan semua kekurangan pada siklus I. Perbaikan ini di dasarkan atas kegiatan refleksi pada siklus I. Materi pada siklus II melanjutkan materi pada siklus I (berkelanjutan).

Siklus III

Seperti pada siklus II, maka kegiatan pada siklus III sama dengan kegiatan pada siklus I dan II. Kegiatan pada siklus III merupakan kegiatan perbaikan semua kekurangan pada siklus II. Perbaikan pada siklus III ini didasarkan atas kegiatan refkeksi pada siklus II. Materi pada siklus III melanjutkan materi pada siklus II (berkelanjutan). Di akhir siklus III, kepada para siswa akan dikenai tes tentang materi yang sudah diberikan.

Sumber dan Cara Pengambilan Data

1. Sumber data

Sumber data diambil dari (1) hasil pengamatan oleh guru pengamat yang dicatat dalam Lembar Observasi dan (2) hasil tes siswa di akhir siklus.

2. Cara Pengambilan data Pengambilan

Pengambilan data dilakukan pada saat hari masuk sekolah

Cara pengambilan data (1) dibuat Lembar Observasi untuk mengamati proses pembelajaran, aktivitas guru dan siswa serta cara yang efektif dalam menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning tipe  CIRC berbasis penemuan, (2) dibuat Lembar Kerja Siswa yang berisi soal cerita yang akan dipecahkan siswa melalui cooperative leraning berbasis penemuan, dan (3) sisa diberi tes di akhir siklus III.

Validasi Data

Validasi data mencerminkan prestasi belajar siswa dianalisis dari perolehan nilai pra siklus, siklus I, siklus II, siklus III. Perolehan tiap siklus tersebut kemudian dibandingkan untuk menentukan tingkat peningkatan prestasi belajar siswa yang dicapai setelah pelaksanaan model pembelajaran tipe CICR.Sedangkan validitas data untuk mengetahui peningkatan keterampilan dianalis secara kualitatif.

Analisa Data.

Analisa data dilakukan dengan menggunakan analisa deskriptif komperatif yaitu membandingkan nilai test antar siklus dengan indikator kerja. Jadi analisis data pada penelitian ini dilakukan baik secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil test di analisis secara kuantitatif berdasarkan prosestase. Sedangkan data yang diperoleh dari hasil observasi dianalisis secara kualitatif.

Indikator Kinerja

Indikator keberhasilan penelitian ini  ditandai dengan:

1)      Meningkatnya hasil belajar setiap siswa kelas IX E SMP 1 Tulis pada pelajaran matematika khususnya dalam menyelesaikan soal cerita, dengan Kriteria Ketuntasan Minimal 60 (enam puluh) sekitar 85%

2)      Terjadinya peningkatan keterampilan berpikir siswa, yang ditandai denagn keberanian siswa bertanya, serta tidak ada siswa dalam suatu kelompok yang pasif, sekitar 80%

3)      Diperoleh cara menerapkan model pembelajaran Tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and composition) berbasis penemuan yang efektif.

 

III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Subyek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa dan guru kelas IX E  SMP Negeri 1 Tulis kabupaten Batang. Jumlah siswa kelas IX E adalah 40 siswa. Terdiri dari 18 siswa laki-laki  dan 22 siswa perempuan yang umumnya memiliki kemampuan sedang. Latar belakang  mereka antara lain : (i) berasal dari lingkungan masyarakat yang kesadaran pendidikannya cukup rendah sehingga budaya belajar dilingkungan itu juga rendah, (ii) terlahir dari keluarga yang ekonominya lemah (sebagian besar orang tua mereka adalah petani dan tidak sedikit di antara mereka hanya menggarap sawah milik orang lain), (iii) dukungan belajar dari orang tua sangat rendah, dan (iii) kemampuan menyelesaikan soal cerita  cukup rendah. Sekolah tempat peneliti bertugas termasuk Unit Sekolah cukup lama. Dan peneliti sebagai guru matematika di SMP Negeri 1Tulis pendidikan  S2 jurusan pendidikan matematika dan memiliki akta mengajar  serta telah bertugas mengajar di SMP Negeri 1 Tulis kurang lebih selama 28 tahun.

Dari instrumen-instrumen yang telah disiapkan untuk menjaring data awal (pra-tindakan penelitian) melalui dokumentasi siswa dan hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran matematika dapat dilaporkan sebagai berikut

 

Tabel 3   Data Rata-rata UH dan Ketuntasan Belajar Siswa Kelas IX E Tahun Pelajaran 2010/2011

 

Unit Kerja

Ulangan Harian Pra-Siklus
Rata-rata % Tuntas Belajar
SMP N 1 Tulis 43 37,50

 

Sumber: Dokumentasi Guru Matematika SMP N 1 Tulis.


A. Deskripsi Siklus I

Pada bagian ini peneliti menyampaikan deskripsi siklus I dari tahapan perencanaan, tindakan, pengamatan sampai refleksi. Siklus pertama direncanakan dua kali pertemuan. Materi yang dibahas pada siklus I adalah  kesebangunan.

 

 

1. Perencanaan Tindakan

Pada siklus pertama, tindakan yang direncanakan untuk mengatasi permasalahan adalah sebagai berikut:

a.       Menyusun rencana pembelajaran yang bernuansa kooperative untuk dua kali pertemuan. Adapun model pembelajaran yang digunakan adalah tipe CIRC.  Rencana pembelajaran yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada lampiran.

b.      Menyusun Lembar Observasi ciri khas CIRC kerja  kelompok (cooperative) untuk setiap pertemuan.

c.       Menyusun Instrumen Penilaian  berupa lembar penilaian hasil observasi siswa.

d.      Menyiapkan soal ulangan harian yang berbentuk isian masing-masing siklus sejumlah soal 2 soal.

e.       Menyusun rubrik lembar penilaian.

 

 

2.      Pelaksanaan tindakan.

No Tindakan guru Tindakan siswa Alat pembelajaran
1 Guru membagi kelas menjadi 8 kelompok setiap anggota kelompok rata-rata 5- 6 siswa Melaksanakan untuk membentuk kelompok Lembar Observasi, Soal- soal ulangan
2 Guru membagi tugas materi yang berupa soal Siswa menerima tugas berupa soal  
3 Guru mengamati diskusi dalam kelompok Siswa dalam kelompok melaksanakan diskusi dengan materi yang sama tentang kesebangunan  
4 Hasil diskusi dipresentasikan ditunjuk oleh guru Siswa melaksanakan presentasi  
5 Guru mengadakan evaluasi Siswa melaksanakan evaluasi  

 

 

3.Observasi (Pengamatan)

Kegiatan pengamatan dilakukan oleh peneliti dan observer pada setiap pertemuan. Pengamatan lebih difokuskan pada enam komponen yaitu: (1) Keterampilan mengungkapkan apa yang diketahui, (2) Keterampilan memisalkan apa yang ditanyakan dengan suatu variabel, (3) Keterampilan mengungkapkan apa yang ditanyakan, (4) Keterampilan mengungkapkan materi kesebangunan, (5) Keterampilan menyelesaikan materi kesebangunan, (6) Keterampilan mengungkapkan jawaban akhir sesuai dengan makna soal cerita.

Hasil rata-rata nilai secara kuantitatif adalah 0,038. Apabila dikualitatifkan keterampilan berinteraksi terhadap pembelajaran kualifikasi rendah.

Berdasarkan hasil ulangan siklus I  dapat disimpulkan sebagai berikut:

a.         Rata-rata nilai 52,25, maka rata-rata nilai menunjukkan tidak mencapai kriteria

ketuntasan minimal yaitu 60%.

b.        24 siswa tuntas belajar, sedangkan 16 siswa tidak tuntas belajar atau 40%

c.         Nilai tertinggi 80 diraih 2 siswa dan nilai terendah 25 diraih 4 siswa.

4.   Refleksi.

Refleksi dilakukan untuk menilai akibat dari perlakuan yang diberikan pada siklus I maka dapat dipaparkan sebagai berikut:

1.      Rata-rata nilai hasil pengamatan rendah

2.      Rata-rata nilai hasil ulangan tidak mencapai kriteria ketuntasan minimal.

3.      Rata-rata hasil pengamatan rendah, tidak selalu hasil ulangan mencapai ketuntasan minimal.

Berdasarkan hasil tersebut maka perlu diadakan tindakan selanjutnya.

Ketidakberhasilan pada siklus I, disebabkan antara lain:

  1. Siswa tidak terbiasa dilatih untuk pembelajaran kelompok.
  2. Pembelajaran tipe CIRC belum dikenal secara umum oleh siswa.
  3. Materi kesebangunan tidak optimal dipelajari.

Pada pelaksanaan tindakan disiklus II, peneliti membagi kelompok dengan mempertimbangkan hasil siklus I yakni hasil evaluasi melalui ulangan di siklus Iyang mendapat nilai baik akan peneliti tempatkan masing-masing pada kelompok minimal 1 siswa sehinggal pada pelaksanaan tindakan pada siklus II disetiap kelompok akan ada siswa yang pandai.

Diskripsi Siklus II.

1. Tahap Perencanaan Tindakan.

Pada siklus kedua, tindakan yang direncanakan  sebagai berikut:

b.      Menyusun rencana pembelajaran yang bernuansa kooperative untuk dua kali pertemuan. Adapun model pembelajaran yang digunakan adalah tipe CIRC.  Rencana pembelajaran yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada lampiran.

c.       Menyusun Lembar Observasi ciri khas CIRC kerja  kelompok (cooperative) untuk setiap pertemuan.

d.      Menyusun Instrumen Penilaian  berupa lembar penilaian hasil observasi siswa.

e.       Menyiapkan soal ulangan harian yang berbentuk isian masing-masing siklus sejumlah soal 2 soal.

f.       Menyusun rubrik lembar penilaian.

 

 

2.      Tahap Pelaksanaan Tindakan.

Langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:

No Tindakan guru Tindakan siswa Alat pembelajaran
1 Guru membagi kelas menjadi 8 kelompok setiap anggota kelompok rata-rata 5- 6 siswa Melaksanakan untuk membentuk kelompok Lembar Observasi, Soal- soal ulangan
2 Guru membagi tugas materi yang berupa soal Siswa menerima tugas berupa soal  
3 Guru mengamati diskusi dalam kelompok Siswa dalam kelompok melaksanakan diskusi dengan materi yang sama tentang kesebangunan  
4 Hasil diskusi dipresentasikan ditunjuk oleh guru Siswa melaksanakan presentasi  
5 Guru mengadakan evaluasi Siswa melaksanakan evaluasi  

 

 

 

3.      Observasi (Pengamatan)

Hasil rata-rata nilai secara kuantitatif adalah 0,05. Apabila dikualitatifkan keterampilan berinteraksi terhadap pembelajaran kualifikasi sedang.

Berdasarkan hasil ulangan siklus II diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:

d.        Rata-rata nilai 64,30, maka rata-rata nilai menunjukkan tidak mencapai kriteria

ketuntasan minimal yaitu 75%.

e.         30 siswa tuntas belajar, sedangkan 10 siswa tidak tuntas belajar atau 25%

f.         Nilai tertinggi 95 diraih 1 siswa dan nilai terendah 40 diraih 4 siswa.

5.   Refleksi.

Refleksi dilakukan untuk menilai akibat dari perlakuan yang diberikan pada siklus II maka dapat dipaparkan sebagai berikut:

1.      Rata-rata nilai hasil pengamatan sedang

2.      Rata-rata nilai hasil ulangan tidak mencapai kriteria ketuntasan minimal.

3.      Rata-rata hasil pengamatan sedang, tidak selalu hasil ulangan mencapai ketuntasan minimal.

Berdasarkan hasil tersebut maka perlu diadakan tindakan selanjutnya.

Ketidakberhasilan pada siklus II, disebabkan antara lain:

1.      Siswa sebagian tidak terbiasa dilatih untuk pembelajaran kelompok.

2.      Pembelajaran tipe CIRC ada sebagaian belum dikenal  oleh siswa.

3.      Materi kesebangunan belum optimal dipelajari.

Pada pelaksanaan tindakan disiklus III, peneliti membagi kelompok dengan mempertimbangkan hasil siklus I dan siklus II yakni hasil evaluasi melalui ulangan di siklus I dan siklus II yang mendapat nilai baik akan peneliti tempatkan masing-masing pada kelompok minimal 1 siswa sehingga pada pelaksanaan tindakan pada siklus III disetiap kelompok akan ada siswa yang pandai demikian juga yang berpikir rendah seimbang.

Diskripsi Siklus III.

1. Tahap Perencanaan Tindakan.

Pada siklus ketiga, tindakan yang direncanakan  sebagai berikut:

b.      Menyusun rencana pembelajaran yang bernuansa kooperative untuk dua kali pertemuan. Adapun model pembelajaran yang digunakan adalah tipe CIRC.  Rencana pembelajaran yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada lampiran.

c.       Menyusun Lembar Observasi ciri khas CIRC kerja  kelompok (cooperative) untuk setiap pertemuan.

d.      Menyusun Instrumen Penilaian  berupa lembar penilaian hasil observasi siswa.

e.       Menyiapkan soal ulangan harian yang berbentuk isian masing-masing siklus sejumlah soal 2 soal.

f.       Menyusun rubrik lembar penilaian.

 

 

 

4.      Tahap Pelaksanaan Tindakan.

Langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:

No Tindakan guru Tindakan siswa Alat pembelajaran
1 Guru membagi kelas menjadi 8 kelompok setiap anggota kelompok rata-rata 5- 6 siswa Melaksanakan untuk membentuk kelompok Lembar Observasi, Soal- soal ulangan
2 Guru membagi tugas materi yang berupa soal Siswa menerima tugas berupa soal  
3 Guru mengamati diskusi dalam kelompok Siswa dalam kelompok melaksanakan diskusi dengan materi yang sama tentang kesebangunan  
4 Hasil diskusi dipresentasikan ditunjuk oleh guru Siswa melaksanakan presentasi  
5 Guru mengadakan evaluasi Siswa melaksanakan evaluasi  

 

 

5.      Observasi (Pengamatan)

Hasil rata-rata nilai secara kuantitatif adalah 0,079. Apabila dikualitatifkan keterampilan berinteraksi terhadap pembelajaran kualifikasi tinggi.

Berdasarkan hasil ulangan siklus III dapat disimpulkan sebagai berikut:

a.       Rata-rata nilai 69,00, maka rata-rata nilai menunjukkan  mencapai kriteria

ketuntasan minimal yaitu 90%.

b.      36 siswa tuntas belajar, sedangkan 4 siswa tidak tuntas belajar atau 10%

c.       Nilai tertinggi 100 diraih 1 siswa dan nilai terendah 50 diraih 2 siswa.

d.                  Refleksi.

Refleksi dilakukan untuk menilai akibat dari perlakuan yang diberikan pada siklus III maka dapat dipaparkan sebagai berikut:

1.      Rata-rata nilai hasil pengamatan sedang

2.      Rata-rata nilai hasil ulangan  mencapai kriteria ketuntasan minimal.

3.      Rata-rata hasil pengamatan kriteria tinggi, hasil ulangan mencapai ketuntasan minimal, dari kedua hasil tersebut tidak perlu diadakan tindakan lagi.

Diskripsi Antar Siklus.

Hasil Belajar

Pada akhir siklus III dilakukan pengambilan data hasil belajar matemayika siswa. Dari 40 siswa kelas IX E siswa yang dinyatakan memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebanyak 36 anak atau sebesar 90%, dan jumlah siswa yang belum tuntas sebanyak 4 anak atau sebesar 10%. Dari data hasil belajar matematika siswa nilai tertingginya 100 diraih satu anak. Nilai terendah 50 sebanyak 2 anak, sedangkan rata-ratanya 69. Demikian juga pada aspek keterampilan berpikir siswa juga meningkat menjadi 0,079 yang termasuk kateri tinggi.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan uraian hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa(1)melalui Cooperative Learning tipe CIRC dapat meningkatkan keterampilan siswa kelas IX SMP N 1 Tulis dalam menyelesaikan soal-soal cerita.(2) melalui Cooperative Learning tipe CIRC dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX SMP N 1 tulis dalam menyelesaikan soal-soal cerita.

Beberapa saran yang diberikan peneliti adalah(1) Guru matematika harus dapat mengemas proses pembelajaran yang menyenangkan namun tetap menantang.(2) Guru harus kreatif, inovatif dan selalu meningkatkan profesionalisnya.(3) Salah satu inovasi proses pembelajaran dalam rangka mengoptimalkan hasil belajar matematika dan meningkatkan keterampilan siswa adalah dengan menerapkan tipe CIRC dalam pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, CA and Jenning, DL. 1990. “When Experiences of Failure Promote Expectations of Succes: the Impact of attributing Failure to Ineffective Strategies”. Journal of Personality, vol.48, 393 – 407.

Abdurrahman As’ari. 2005. Pemecahan masalah matematika – Pembelajaran dan Asesmennya. Makalah disajikan dalam Seminar Pendidikan di SBI Madania Bogor.

Amin Suyitno dan Isnaeni Rosyida. 2002. Pembelajaran RME ( Realistic Mahtematies Education ) sebagai langkah inovasi Pendidikan Matematika dan Implementasinya di SMP. Laporan Penelitian Dosen Muda. Semarang : Universitas Negeri Semarang.

Amin Suyitno, 2001. Meminimalkan Kesalahan Mengerjakan Soal pada siswa kelas VIII SMP 9 Semarang Melalui Model Pembelajaran Problem Posing. Laporan Penelitian Program ASD. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Boediono dan Ella Yulaewati, 1999. Penyusunan Kurikulum Berbasis Kemampuan Dasar. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan Balitbang Dikbut. Oktober tahun ke 5, No. 019.

Boediono, 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.

Chuck W, Wiederhold, 2002. Higher – Level thinking. Melbourne: Kagan Cooperative Learning.

Elaine B. Johnson. 2002. Contextual Teaching and Learning. California: Corwin Press, Inc

Ennggen dan Kauchack. 1998. Strategies For Teachers. Teaching Content and Thinking Skills, New Jersey; Prentice Hall.

Emi Pujiastuti. 2002, Penerapan Pengajaran Berbalik (Reciprocal Teaching) dalam Mata Pelajaran Matematika di SMP sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran. Laporan Penelitian Dosen Muda. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Johnson, DW dan Johnson, RT. 1994. Learning together and alone: Cooperative, and individualistic learning. Boston: Allyn dan Bacon.

Lyn D. Engglish. 1995, Mathematies Education- Models and Processes. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publisher.

Mohamad Nur. 1999, Pengajaran Berpusat kepada siswa dan Pendekatan Kontruktivis dalam Pengajaran. Surabaya: Unesa.

Slavin, Robert, E. 1995. Cooperative Learning Theory, Research and Practice. Second Edition. Boston : Allyn and Bacon Publisher.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: